Minggu, 18 Maret 2012

Artikel Psikoterapi dan Psikiatri

A. PSIKOTERAPI
1. Corsini (1989) merumuskan psikoterapi dengan definisi proses formal dari interaksi antara dua pihak dengan tujuan memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan (distress) karena ketidakmampuan dari beberapa aspek, diantaranya ; fungsi kognitif, afektif maupun fungsi perilaku.
2. Watson & Morse (1977) berpendapat bahwa psikoterapi dirumuskan sebagai bentuk khusus dari interaksi antara dua orang, pasien dan terapis, yang mana interaksi dimulai oleh pasien karena ia mencari bantuan psikologis.
3. Menurut Wolberg, Psikoterapi merupakan penanggulangan dengan car-cara psikologis atas masalah-masalah yang bersifat emosional dengan sengaja membangun relasi profesional antara terapis dengan klien.
4. Secara umum, tujuan dilakukan psikoterapi psikoterapi adalah sebagai berikut :
- Memperkuat motivasi untuk hal-hal yang benar.
- Mengurangi tekanan emosi melalui kesempatan untuk mengekspresikan perasaan yang mendalam.
- Membantu klien mengembangkan potensinya.
- Mengubah kebiasaan.
- Mengubah struktur kognitif individu.
- Meningkatkan pengetahuan dan kapasitas untuk dalam mengambil keputusan secara tepat.
- Meningkatkan pengetahuan diri (insight).
- Meningkatkan hubungan antar pribadi.
- Mengubah lingkungan sosial individu.
- Mengubah proses somatik supaya mengurangi rasa sakit dan meningkatkan kesadaran tubuh.
- Mengubah status kesadaran untuk mengembangkan kesadaran, kontrol dan kreatifitas diri.
5. Tahap – tahap psikoterapi :
- Wawancara awal.
- Proses terapi.
- Pengertian ke tindakan.
- Mengakhiri terapi.
6. Dalam setiap melakukan terapi dibutuhkan intervensi dasar untuk membina hubungan terapiutik yang profesional dengan kliennya.
7. Beberapa intervensi dasar yang perlu diketahui oleh terapis yaitu :
- Bertanya Þ bentuk intervensi termudah dan sederhana.
- Penjelasan Þ intervensi yang lebih bermakna.
- Eksklamasi Þ kata – kata atau gerakan yang menyatakan menyetujui, mengerti ataupun tidak menyetujui.
- Konfrontasi Þ dilakukan ketika sudah terbina hubungan baik antara terapis dengan klien.
- Interpretasi Þ asumsi bukan sebagai suatu fakta.
8. Menurut George and Cristiani (1981), terdapat cara – cara membina hubungan baik dengan klien :
- Membuka pertemuan awal dengan klien.
- Menyusun pertemuan.
- Mengakhiri wawancara awal.
9. Kondisi-kondisi tertentu yang diperlukan dalam psikoterapi menurut Korchin (1979) :
- Psikoterapi merupakan kesempatan untuk belajar kembali.
- Dalam psikoterapi, individu mengalami bukan hanya membicarakan pengalamannya.
- Hubungan yang menyembuhkan.
- Motivasi, keyakinan dan harapan klien perlu ada dalam tiap proses psikoterapi.
10. karakteristik psikoterapi meliputi :
- Hubungan antara terapis dan klien bersifat afektif Þ Eksplorasi perasaan dan persepsi subjek.
- Sifat hubungan intens Þ terjadi hubungan yang mendalam.
- Pertemuan bersifat pribadi Þ menjaga rahasia subjek.
- Dukungan Þ melakukan perubahan berikut segala resikonya.

B. PSIKIATRI
1. Psikiatri adalah suatu cabang ilmu kedokteran yang mempelajari aspek kesehatan jiwa serta pengaruhnya timbal balik terdapat fungsi-fungsi fisiologis organo-biologis tubuh manusia.
2. Ilmu psikiatri dibangun atas 4 fondasi dasar, yaitu:
- Dimensi Organo-biologis yaitu aspek pengetahuan tentang organ-organ tubuh serta fungsi fisiologis tubuh manusia khususnya yang berkaitan langsung dengan aspek kesehatan jiwa (seperti Sistem Susunan Saraf Pusat).
- Dimensi Psiko-edukatif yaitu aspek pengetahuan tentang perkembangan psikologis manusia serta pengaruh pendidikan-pengajaran terhadap seorang manusia sejak lahir hingga lanjut usia.
- Dimensi Sosial-Lingkungan yaitu aspek pengetahuan tentang pengaruh kondisi sosial-budaya serta kondisi lingkungan kehidupan terhadap derajat kesehatan jiwa manusia.
- Dimensi Spiritual-Religius yaitu aspek pengetahuan tentang pengaruh taraf penghayatan dan pengamalan nilai-nilai spiritual-religius terhadap derajat kesehatan jiwa manusia.

Sumber :
Gunarsa, S.D. 2004. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : BPK Gunung Mulia.
Wiramihardja, Sutarjo. 2007. Pengantar Psikologi Klinis. Bandung : Refika Aditama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar